Selasa, 18 Agustus 2009

Kita Bekerja untuk Uang dan Uang Bekerja untuk Kita

Sobat, bekerja dan menghasilkan uang kemudian uang kita gunakan untuk salah satu alat memenuhi kebutuhan.

Begitulah salah satu siklus kehidupan yang harus dilalui. Terkadang kita bertanya pada diri sendiri bahwa kita merasa telah bekerja keras namun penghasilan yang diperoleh dirasa tidak sepadan dan berakibat adanya kebutuhan yang tidak dapat kita penuhi. Hal tersebut adalah sebuah kewajaran. Sebenarnya, kita sendiri telah memiliki jawaban tersebut yaitu sejauh mana kita bersyukur kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan.

Bersyukur tidak sama artinya dengan pasrah ataupun nrimo. Salah satu rasa bersyukur adalah rezeki yang kita telah terima dapat kita manfaatkan dengan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan kita baik yang bersifat jasmaniah dan rohaniah dengan baik dan benar (setidaknya…begitulah menurut Saya).

Sobat, mencapai sebuah kesejahteraan atau kebebasan finansial telah menjadi impian semua orang. Untuk mencapai kebebasan finasial tentunya dibutuhkan kerja keras dan cerdas, yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Bagaimana caranya? Satu-satu jalan adalah dengan menabung, yaitu dengan menunda kesenangan sesaat di masa sekarang untuk tujuan yang lebih besar di masa datang.

Pertanyaan mendasar dari pola menabung adalah dari manakah sumber dana untuk tabungan tersebut? Tentunya dari penghasilan yang dibawa pulang setiap bulannya dong. Padahal, penghasilan bulanan seringkali hanya dapat memenuhi kebutuhan bulanan, malah seringkali habis ditengah bulan.

Saat ini bunga kredit murah banyak ditawarkan oleh sektor keuangan. semua ini mendorong orang untuk berbelanja dengan berhutang. Hutang, tidak semuanya buruk. Tapi mengambil hutang tanpa perencanaan yang matang dapat berakibat buruk terhadap keuangan keluarga. Benar bukan?

Ada dua sumber penghasilan yang bisa kita peroleh, pertama adalah dengan "kita bekerja untuk uang" yaitu kita bekerja setiap hari selama satu bulan kita akan mendapatkan penghasilan dan "uang bekerja untuk kita" di mana uang atau capital yang sudah kita kumpulkan yang bekerja dan menghasilkan pendapatan.

"kita bekerja untuk uang"

Bagi pekerja atau pegawai untuk dapat hidup sejahtera hanya dengan bekerja dan mendapatkan gaji. Pajak dan inflasi adalah dua hal pertama yang menggerogoti pendapatan bulanan. Kebutuhan dan keinginan jangka pendek, biasanya menjadi prioritas utama. Yang pada akhirnya dirasakan bahwa penghasilan bulanan yang diperoleh tidak mencukupi. Untuk dapat hidup sejahtera sepanjang masa, satu-satu jalan adalah dengan mencari jalan untuk dapat menyisihkan sebagai dari penghasilan bulanan untuk membangun sebuah kapital (modal). Jadi bagi Anda yang bekerja atau menjadi pegawai, solusi untuk membangun kesejahteraan adalah dengan mengonversikan penghasilan bulanan menjadi kapital dengan menyisihkannya sebagai secara berkala.

"uang bekerja untuk kita"

Terbangunnya sebuah kapital akan memberikan potensi pendapatan lain dari kapital yang diinvestasikan. Inilah artinya uang bekerja untuk kita dimana uang yang kita sisihkan dan diinvestasikan yang bekerja keras untuk memberikan penghasilan kepada kita.

Kita dapat menginvestasikan dalam:

  1. Saham, kita akan mendapatkan capital gain (selisih positif dari harga jual dan harga beli) atau dividen
  2. Properti, kita akan memperoleh uang sewa dari rumah, toko atau bangunan yang kita miliki
  3. Tanah, kita akan memperoleh kenaikan harga tanah untuk beberapa tahun kemudian
  4. Membeli sawah atau ladang, dapat kita sewakan ataupun memperoleh hasil panennya
  5. Bekerja sama dengan relasi yang memiliki usaha, kita akan memperoleh bagi hasil atas keuntungan hasil usahanya
  6. Membeli emas, kita akan memperoleh keuntungan jika harga emas naik dan sekaligus memproteksi (melindungi) nilai uang dari inflasi

Sebelum mencapai keberhasilan kita harus mampu melewati kendala atau hambatannya, demikian juga untuk mencapai kesejahteraan atau kebebasan finansial (financial freedom) kendala-kendala di bawah ini harus kita hanguskan lebih dulu he..he..

Kendala mengapai kesejahteraan

Ada empat kendala utama yang membuat kita gagal menciptakan kehidupan yang sejahtera sebagaimana yang kita harapkan yaitu :
1. kebiasaan untuk menunda-nunda,
2. kebiasaan belanja yang tak terkontrol,
3. pajak
4. inflasi.

Dua hal pertama lebih merupakan masalah personal/pribadi atau dapat juga dikatakan bahwa dua hambatan pertama merupakan faktor internal. Faktor internal harus diatasi dan diselesaikan pada level personal. Sikap suka menunda-nunda perencanaan keuangan, merupakan faktor utama tidak tercapainya kehidupan sejahtera di masa datang. Menunda perencanaan keuangan guna mempersiapkan biaya-biaya pendidikan anak, misalnya, dapat berdampak buruk kalau dilihat dalam jangka panjang.

Dua faktor akhir atau bisa disebut faktor eksternal berkaitan dengan kondisi sosial dan perekonomian suatu negara. Tidak banyak orang yang dapat mempengaruhi tingkat inflasi dan mengatur soal perpajakan dalam suatu negara. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang kompleks, bahkan bisa melampaui kemampuan suatu pemerintahan karena hubungan-hubungan dalam skala regional sampai internasional-global. Yang mungkin dapat dilakukan oleh orang perseorangan dalam mengatasi hal ini adalah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan muncul dengan menarik pelajaran dari sejarah masa lalu. Artinya, sekalipun inflasi dan pajak tidak dapat kita kontrol, namun kita tetap dapat menentukan sikap pribadi terhadap hal-hal tersebut.

Selama ini pola menabung yang umum dilakukan adalah dengan menabung dari sisa belanja bulanan keluarga. sudah tidak zamannya lagi melakukan pola itu. Bila dipelajari kita membayar orang lain terlebih dahulu bukannya diri kita sendiri. Kita membayar tukang roti bila kita membeli roti, kita membayar tukang potong rambut langganan kita apabila selesai menata rambut kita. tapi pertanyaannya, kapan kita membayar untuk diri kita sendiri? Jadi sudah sebaiknyalah kita membayar untuk diri kita sendiri sebelum kita membayar untuk orang lain. Jangan menabung setelah kita menggunakan pendapatan selama sebulan atau apa yang tersisa tapi kita harus menyisihkannya di muka.

Sebagai anjuran awal, kita menabung 10% dari pendapatan regular bulanan. 10% dari pendapatan tidak akan merubah gaya hidup yang kita jalani. Dengan 10% yang kita sisihkan, kita akan membangun sebuah kapital yang pada akhirnya memberikan penghasilan kepada kita. Tapi dengan satu syarat mutlak yang harus dipegang, jangan pernah mengambil dari dana yang kita sisihkan sebesar 10% setiap bulannya untuk masa depan.

Demikianlah hal-hal berkaitan dengan pola menabung yang bijak yang bisa kita lakukan dan praktekan dalam keuangan dalam membangun kebiasaan menabung untuk mencapai kesejahteraan yang didambakan.

Sebagai penutup, Saya teringat dengan petuah dari Aa Gym yaitu 3M, mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai saat ini juga.


0 komentar:

Poskan Komentar